| MALAM PERTAMA Lu2Ar dalam kumpulan cerpen versi Indonesia Diinspirasi oleh sang Pujangga Kahlil Gibran dalam guratan syair-syair Nyanyian Bunga Keajaiban malam menyapa para penghuni dunia yang terbuai nyanyian alam yang syair-syairnya sanggup meredam remuk redam kekesalan anak manusia. Ketika anak manusia mengatakan alam terlelap saat malam, tahukah kau bahwa alam bernyanyi, menangis, tersenyum dan berpesta. Tidakkah kau lihat sang bulan menggantung di kubah raksasa yang tiada batas milik yang Maha Kaya? Yang dengan sinarnya, disampaikan pesan-pesan cinta, energi ketenangan sebagai terapi jiwa yang merindukan cinta. Tidakkah kau rasakan kehadiran sang Bintang berserakan disekitar cahaya dunia? Yang dengan kerlipnya disampaikan amanat alam untuk kau jaga dan nikmati. Disana ada terapi jiwa yang telah terkoyak oleh duri dunia yang berkamulflase begitu indahnya. Sang Angin mempersembahkan lagu merdunya yang syair-syairnya menyerap hingga ke jiwa, yang melodinya membawa manusia terbang ke alam penuh cinta. Yang dengan sentuhan malamnya memberimu setitik harapan difajar yang segera bersaing dengan malam. Tidakkah kau dengar suara binatang malam yang mungkin sedang menyulam harapan bersama mereka yang tercinta? Yang mungkin berkata “Bagaimana harimu?” atau “siapkah kau merajut cinta esok hari?” mungkin juga “tegakkan kepala, siapkan kaki2mu untuk lari dari kejaran manusia jahanam, kita akan menjadi santapan esok hari, terhidang di meja lengkap dengan sambal terasi yang baunya membuat aku pusing kepala.” Mungkin kau juga mendengar nada ketulusan dari binatang malam memberimu cinta “AKu akan mati besok pagi, namun aku beri cinta karena aku hidup ditubuh manusia, sungguh manusia makluk yang lemah, dan aku siap besok pagi.” Diujung sana, dekat dengan gerbang kemewahan yang bertahtakan gelak tawa, gelas-gelas rapuh membawa sang anggur menunggu sang manusia meneguknya, manusia manusia berpesta, tertawa dan menari mengikuti alunan musik gubahan manusia yang terkadang indah dan terkadang memekakkan gendang telinga. Liukan tubuh-tubuh seksi yang menggoda iman terhampar luas disetiap pandangan. Tatapan-tatapan keturuan Adam dan Hawa bersaing merebut cinta yang mungkin abadi atau kenikmatan hasrat sesaat. Baju-baju dunia berbalut ratusan uang kertas terpampang, dibawa oleh sang model meliuk kesana kemari mencari kedamaian dunia. Tidakkah kau dengar mereka menyulam kata dalam beragam bahasa ? “ Malam panjang, dunia milikku.” Atau mungkin “Aku sepi, sendiri, sunyi, namun disini aku bersama sang jati diri; menari dan menari, mungkin aku temukan cinta abadi.” Atau ini yang kau dengar “Inilah aku, sang manusia dengan baju kemewahan dan kesenangan. Inilah duniaku saat penatku menghantui.” Terpisah gerbang kemewahan dengan cahaya berwarna-warni, sang manusia mungil dengan tatapan murni dan jemari yang bersih menyatu dengan alam untuk pertama kali. Lantunan pujian cinta pada alam dan Sang Pemilik kubah raksasa tanpa batas mengalun pelan dan syahdu. Tangan-tangan kasar yang tercemar menyentuh sang manusia mungil meniupkan harapan baru, menyematkan ucapan cinta pada kening danjemarinya. Untuk pertama kali sang manusia mungil tersenyum, untuk pertama kali sang manusia mungil menari kecil dan untuk pertama kali sang manusia kecil merasakan sang Angin. Tidakkah kau dengar manusia menyulam kata-kata dalam balutan bahasa sang pujangga ? “Lihat senyum itu, ada cinta ibu disana dan lihat mata itu ada ayah disana.” Atau “biarkan sang alam menuntunmu pada kehidupan yang sebenarnya kau mau, jagalah jiwanya dari kamulflase keindahan dunia.” Dan kemudian sang tangan-tangan kasar pulang kembali kerumah bersama mereka yang tercinta, menghilang dalam dekapan malam yang semakin menghujam. Cerita malam menyapa alam dengan cerita sang anak-anak malang yang merebahkan tubuhnya pada alas kasar yang basah oleh sang hujan yang datang tak terduga. Tidakkan kau dengar mereka menyulam kata dalam balutan dingin yang teramat sangat ? “bagaimanakah sang kaya merebahkan tubuhnya dengan alas permadani bagai di surga, ibu?” atau mereka membisikan pada alam dahaga-dahaga mereka “ Terbiasa aku beralaskan permadani alam, tersirat dalam benakku permadani warna warni yang memelukku dalam balutan hangat sang selimut malam. Jika waktu itu datang, setidaknya aku akan bermimpi menuju kesana.” Cerita malam menorehkan keajaiban pada manusia terbaring lemah diruang dengan dinding putih membosankan. Ruang yang meneriakkan kata-kata yang sama “Kamu ayo minum obat itu.” Wajah-wajah senyum palsu yang mencoba mengirim pesan kedamaian jiwa. Tidakkah kau dengar mereka memberimu air mata melalui bahasa yang tak terungkapkan oleh kata-kata? Tidakkah kau dengar mereka membisikan pada alam malam dan bertanya “tahukah kau rasanya terbaring lemah?”, “Tahukah kau rasanya menghadapi sang maut dengan wajah-wajah yang berbeda menjemputnya mungkin sebelum sang fajar tiba?”, “Tahukah kau rasanya menyambut sang fajar dengan senyuman bahagia karena sang maut berhasil pergi ?” “Ibu, Ayah, sang alam memberi cerita pada malam pertamaku. Alam malam bercerita padaku melalui sang Angin yang menyentuhku pada malam pertamaku. Dia bercerita tentang binatang malam, manusia-manusia yang tampak seperti raksasa bagiku, manusia-manusia mungil seperti aku yang terbaring dalam balutan dingin sang Angin dijalan sana. Sang malam bercerita tentang duka dan suka manusia dan aku mengenal air mata di malam pertamaku. Dan sang Angin memperkenalkan aku pada sang Pemilik Kubah Raksasa tanpa batas melalui sinar dunianya yang terangnya menyampaikan pesan cinta dan yang dengan Sang Bintangnya menemani malam pertamaku. Yah malam pertamaku menyatu dengan alam malam. Malam pertamaku bersahabat dengan Tuhan Semesta Alam. Malam pertamaku menyatu dengan dunia baru.” Sang manusia mungil menyulam kata dalam tidurnya yang lelap malam pertama, dalam balutan tangan penuh cinta ayah dan bunda.” Aku adalah manusia bebal Yang tersentuh jutaan angin malam Tanpa tersadar akan arti sebuah kefitrahan Karena sebuah peradaban Bagiku, aku tak ingat malam pertamaku, namun sang alam malam memberiku pelajaran tanpa uang akan kearifan, kebijakan, kerendahan hati dan kefitrahan diri yang terlupakan oleh peradaban yang tersingkirkan oleh duri dunia yang berkamulflase dalam keindahan dunia. Dan bagiku alam malam membawaku untuk kembali kepada kearifan kebijakan kerendahan hati dan kefitrahan diri yang kemudian mengajakku bersahabat dengan Sang Pemilik Kubah Raksasa. January 2008, |