| Kalau jaman dulu tahun 80an, belum banyak yang namanya channel TV, hiburan lain yang didapat adalah dari radio. Sekarang orang denger radio buat dengerin lagu, kirim salam, selain denger berita, itu jelas, meskipun jaman dulu juga sudah begitu. Hanya saja, sepertinya ada yang hilang..... Dulu waktu SD, setiap saya pulang sekolah sambil makan siang saya langsung puter radio dan cari yang namanya Sandiwara Radio. Atau sambil makan malam, saya puter radio cari yang namanya Sandiwara Radio.... seru seru sih masih ingat beberapa. Tutur Tinular Mantili, Lasmini, Aria Kamandanu, dll! ini favorit sekali. Sampai sekarang my vivid imagination about the story is still clear. Imaginasi berkembang! tahu dong yang namanya radio kita hanya bisa bayangin aja, dan it was a lot of fun!. Gimana mantili beraksi, gimana Lasmini berpakaian dan sebagainya. Meski sebenernya nggak ingat juga gimana terusannya atau akhirnya. Mak Lampir Favorit juga nih, nggak terlalu banyak yang bisa diingat dari sandiwara ini. Tapi seru banget, dulu waktu kecil habis pulang sekolah cuma pake kaos dalam dan celana pendek sambil makan siang dengerin ini sandiwara radio. Ketawanya mak Lampir! rambutnya! tongkatnya semua jelas dalam imajinasi saya. Pernah dulu waktu mati lampu, denger sandiwara ini pake radio yang pakai baterai! pas mak lampir ketawa, kita pada pegang bantal dan saling ngeruntel ( deket2). Srintil Nggak ingat apa ini nama orang (tapi sepertinya sih iya) lokasi atau apa. Yang jelas ini sandiwara radio Horror! serem saya masih ingat tuh ceritanya. Apalagi ada background musik seremnya, didengerin malem2 jadi tambah berasa! Saya masih TK waktu itu... ada penggalan kata yang masih saya ingat , kira-kira begini .... "Rumahnya gelap, ada sumur depan rumah... kemudian Srintil mengendap.. pelan-pelam dan tiba-tiba Srintil merasa ada yang mengikutinya dari belakang tiba-tiba..." Nah sekarang beda! anak sekolah pulang kerumah main games, les, liat TV sampe sore. Sandiwara radio sekarng sudah punah, meski nggak totaly gone. Beberapa hari yang lalu, saya denger sandiwara radio tentang family affair, tapi once again tidak menarik seperti dulu. Yang jelas Sandiwara radio nggak memancarkan pesonanya lagi. Pesonanya sudah terkalahkan dengan sandiwara televisi yang lebih visual, nggak usah berimajinasi tentang bagaimana cerita / scene ceritanya. Lu2Ar For my contacts who speak English Radio series were quite popular around 80s. At that time, TV channels here were only few; not so interesting ones. When I was in elementary, I often turned on the radio just to follow some radio series ( Tutur Tinular, Mak Lampir and Srintil) I think I still had some more, but I just don'r remember what they were. Now everything is of course different; coming home from school, children take lessons, watch TV, or play video games sometimes until late in the afternoon. Slowly but surely, radio series become rare. No one wants to listen to them even if there is any on the radio. Radio series become less interesting than TV series. This is something obvious; watching TV series you don't even need to imagine how the scene is, yet radio series your imagination works. Anyhow, I don't know about these radio series abroad. |