Lulu 's posts with tag: facts
 | Category: | Movies | | Genre: | Education |
"Sudah kau tonton kah film ini?", " Suka kah kau?" ( menirukan "accent" Papua yang unik meski tidak yakin juga "accent" papua saya mirip ama orang Papua.) "Ada yang dari Papua kah?" ( -sepertinya orang Papua menggunakan akhiran -kah seringkali) Nah Film ini bisa saya bilang film yang bisa membuat saya duduk didepan TV dan menyaksikannya sampai habis. Sebuah tekad seorang Denias, anak Papua yang hidup di daerah terpencil di Papua yang ingin sekali bersekolah dan mengejar harapannya. Terkesan "idealis"? well, tidak juga menurut saya. Cerita yang diangkat dari kisah nyata dari seorang Papua yang kini berhasil disekolahkan ke luar negeri oleh PT Free port. Film yang menggelitik dan menyentuh hati saya. Film yang mendeskripsikan kehidupan di Papua terlebih di daerah terpencil. Film ini juga semakin hidup karena mengambil "settings" di daerah cantik yang tak terjamah peradaban dunia, didaerah Papua. Plus, sang tokoh Denias yang diperankan Albert F seorang mantan juara singing contest cilik tahun 2003 silam, yangkini sudah beranjak dewasa, menyumbangkan suara anak pulaunya yang benar2 emas. I think this is the kind of movie that's worth watching; selain buat hiburan, juga memperkenalkan budaya Indonesia yang beraneka ragam ( Indonesia bukan hanya Jawa kan?) ya semoga ini mengurangi gerakan separatis lah setidaknya. Anyway, the movie is just great Meanwhile let me sing the theme song for today " I remember all the things we shared, I remember all the laughter we shared, all the stories.." by Mocca ( Indonesian Band) Link to Denias http://deniasmovie.com
Link: http://www.space.com/eclipse/When I read Yahoo News just some minutes ago, I found something about Lunar eclipse and other amazing events related to our galaxy. I have always been amazed by our galaxy, constellations, comets, and all that jazz. Lu2Ar
| Kalau jaman dulu tahun 80an, belum banyak yang namanya channel TV, hiburan lain yang didapat adalah dari radio. Sekarang orang denger radio buat dengerin lagu, kirim salam, selain denger berita, itu jelas, meskipun jaman dulu juga sudah begitu. Hanya saja, sepertinya ada yang hilang..... Dulu waktu SD, setiap saya pulang sekolah sambil makan siang saya langsung puter radio dan cari yang namanya Sandiwara Radio. Atau sambil makan malam, saya puter radio cari yang namanya Sandiwara Radio.... seru seru sih masih ingat beberapa. Tutur Tinular Mantili, Lasmini, Aria Kamandanu, dll! ini favorit sekali. Sampai sekarang my vivid imagination about the story is still clear. Imaginasi berkembang! tahu dong yang namanya radio kita hanya bisa bayangin aja, dan it was a lot of fun!. Gimana mantili beraksi, gimana Lasmini berpakaian dan sebagainya. Meski sebenernya nggak ingat juga gimana terusannya atau akhirnya. Mak Lampir Favorit juga nih, nggak terlalu banyak yang bisa diingat dari sandiwara ini. Tapi seru banget, dulu waktu kecil habis pulang sekolah cuma pake kaos dalam dan celana pendek sambil makan siang dengerin ini sandiwara radio. Ketawanya mak Lampir! rambutnya! tongkatnya semua jelas dalam imajinasi saya. Pernah dulu waktu mati lampu, denger sandiwara ini pake radio yang pakai baterai! pas mak lampir ketawa, kita pada pegang bantal dan saling ngeruntel ( deket2). Srintil Nggak ingat apa ini nama orang (tapi sepertinya sih iya) lokasi atau apa. Yang jelas ini sandiwara radio Horror! serem saya masih ingat tuh ceritanya. Apalagi ada background musik seremnya, didengerin malem2 jadi tambah berasa! Saya masih TK waktu itu... ada penggalan kata yang masih saya ingat , kira-kira begini .... "Rumahnya gelap, ada sumur depan rumah... kemudian Srintil mengendap.. pelan-pelam dan tiba-tiba Srintil merasa ada yang mengikutinya dari belakang tiba-tiba..." Nah sekarang beda! anak sekolah pulang kerumah main games, les, liat TV sampe sore. Sandiwara radio sekarng sudah punah, meski nggak totaly gone. Beberapa hari yang lalu, saya denger sandiwara radio tentang family affair, tapi once again tidak menarik seperti dulu. Yang jelas Sandiwara radio nggak memancarkan pesonanya lagi. Pesonanya sudah terkalahkan dengan sandiwara televisi yang lebih visual, nggak usah berimajinasi tentang bagaimana cerita / scene ceritanya. Lu2Ar For my contacts who speak English Radio series were quite popular around 80s. At that time, TV channels here were only few; not so interesting ones. When I was in elementary, I often turned on the radio just to follow some radio series ( Tutur Tinular, Mak Lampir and Srintil) I think I still had some more, but I just don'r remember what they were. Now everything is of course different; coming home from school, children take lessons, watch TV, or play video games sometimes until late in the afternoon. Slowly but surely, radio series become rare. No one wants to listen to them even if there is any on the radio. Radio series become less interesting than TV series. This is something obvious; watching TV series you don't even need to imagine how the scene is, yet radio series your imagination works. Anyhow, I don't know about these radio series abroad. | | |
 Perhaps, only few who know that this temple DOES exist. It is located up the hill of Jogja. We felt lucky that we managed to visit
this temple. Thank you so very much to my cousin who showed this temple to us. The "unknown" temple is located in Sambirejo Village. That's why we call the temple Sambirejo temple. There are many temples in this village, and we only visited some. II call it "unknown" as it is not mentioned in the travel-guide book from www.lonelyplanet.com Indonesian version. (the book is popular among tourists who want to explore Indonesia.) When we went there, a villager came to us and asked us to fill the "guestbook". Having read the guestboook, I was a bit surprised knowing that there have been quite many visitors ever visited this temple, but mostly they are from abroad. I guess they are some hikers as the location of the temple is really up the hill, so I can understand that sometimes people feel lazy to visit this temple. I inside the temple, you can see a water-fountain look alike thing, perhaps thousands years ago, people in the era used it to gather some water. According to many people and my cousin too, people in the era used yolk to join one stone to another stone. Phew! that must have been a lot of work. What kind of technology they used? nobody knows. I'd say "simple" technolog in my era, yet "modern" in their time. Overall, the temple is in a quite good condition. The surrounding seems to be well maintained. Looking Jogja city in the temple is possible and it gives you an amazing view of Jogja city. I am not sure whether Kesultanan- Hamengkubuwono knows this temple, perhaps he does. There are many unknown temples in Jogja. I'd say that Jogja is called a thousand-temple city as there are many temples can be found here in Jogja. Have you ever wondered how they managed to build such strong temples?? Should you neeed any information about how to get to this temple. PM me! Lu2Ar
Tadi saya mengajar anak-anak SD - WE 3 ( Welcome English 3). Senengnya waktu mengajar anak-anak adalah mereka tuh bisa diajak ngobrol seperti teman. Biasa sebelum pelajaran dimulai, biasanya saya ada warming-up activity dulu; seperti tanya-tanya "How are you?", "Did you have breakfast today", "what did you have?" ya seperti itulah. Anak SD sekarang tuh beda banget sama jaman saya dulu. Bahasa Inggris mereka tuh ya udah "canggih" dan cepet tanggap. Tadi, saat warming-up activity saya tanya-tanya apa mereka ada upacar bendera setiap senin.. jawabannya bikin saya "pingsan" jawabannya "nggak ada" dari 8 murid 8 sekolah yang berbeda. hanya 2 saja yang ada upacara bendera setiap senin dan hebohnya lagi ada murid saya yang tidak hafal "Indonesia Raya" waaah saya sedih sekali, kok bisa gawat begitu ya, menurut saya sih gawat. Beberapa bulan yang lalu, saya juga punya murid private SMA kelas 3, dan sama juga, malah gawat nggak pernah ada upacara bendera. Sebenarnya apa pentingnya sih upacara bendera? udah berdiri lama..panas... keringatan... dll. Menurut saya sih, upacara bendera tuh penting biar kita nggak lupa, supaya kita berhenti terus-terusan "mencaci"negara sendiri; jeleknya negara kita ya dari kita, bagusnya ya dari kita. Hmm, udah deh ..cuma curhat..kageeet banget soalnya!. Asli!! Wassalam, Lu2Ar
|
|